Fashion

Transformasi PINTU Residency JF3 di Tahun Kedua

PINTU Residency JF3 2026 sebagai platform diplomasi budaya dan akselerasi bisnis berskala internasional

PINTU Residency JF3 2026, sebagai satu dari 3 sub-program PINTU Incubator, menjadi tonggak baru dalam ekosistem mode tanah air yang berhasil menyatukan kreativitas, diplomasi budaya, dan infrastruktur bisnis dalam satu panggung. Diinisiasi oleh JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Français d’Indonésie (IFI), program bilateral yang memasuki edisi kedua ini digelar di bawah tema besar JF3 2026,  “Recrafted: Shaping the Future”.

Jika pada tahun 2025 fokus utama PINTU Residency adalah memberikan pengalaman bagi desainer Prancis di Indonesia, tahun 2026 menerapkan format "Creative Pairs". Dua desainer Indonesia dipasangkan langsung secara satu-satu dengan dua desainer Prancis, menciptakan dialog budaya yang setara dan timbal balik, mendukung kolaborasi lintas batas dan pelestarian craftsmanship Nusantara.

Perubahan lainnya pada tahun 2026 adalah durasi Residency yang ditingkatkan dari 3 bulan menjadi 4 bulan (April–Juli 2026) dan dikurasi secara ketat oleh tiga tokoh mode internasional: Thresia Mareta (Founder LAKON Indonesia), Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer. Penambahan waktu ini memberikan ruang yang lebih longgar bagi para desainer untuk memahami proses pembuatan kain tradisional, melakukan eksperimen material, hingga mematangkan proses produksi koleksi.

Pasangan pertama adalah Mickaël Nana (Prancis) dan Beatrice Angelica (Indonesia) yang berkolaborasi langsung dengan komunitas perajin di Lombok. Mickaël Nana adalah desainer muda yang memiliki keahlian dalam teknik structural tailoring kontemporer khas Eropa. Fokus desainnya terletak pada eksplorasi potongan tegas, konstruksi pakaian formal, dan siluet modern yang mengutamakan presisi. Beatrice Angelica adalah desainer muda Indonesia yang berfokus pada pelestarian tekstil tradisional berbasis komunitas artisan. Desainnya berfokus pada pengembangan material lokal, pewarnaan alam, dan narasi budaya Nusantara. Pasangan ini menghasilkan koleksi bertajuk Garuda. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas global.

Pasangan kedua adalah Lisa Rayar (Prancis) dan Gabriel Marcella (Indonesia) yang terjun ke Mojokerto & Pesisir. Lisa Rayar adalah desainer mode berbasis di Paris yang dikenal sangat detail, serbabisa, dan menaruh perhatian besar pada inovasi material. Desainnya menggabungkan estetika fungsionalitas dengan elemen artistik bertema maritim Eropa. Sementara itu Gabriel Marcella adalah desainer visioner Indonesia yang aktif mengeksplorasi teknik wastra pesisir Jawa. Desainnya berfokus pada reinterpretasi motif batik tradisional ke dalam busana siap pakai yang adaptif. Melalui riset mendalam di Mojokerto pasangan ini meluncurkan koleksi bertajuk "AU LARGE". Koleksi ini merupakan peleburan epik antara tradisi maritim Prancis dan budaya masyarakat pesisir Jawa. Mereka memadukan seni batik Jawa dengan siluet pakaian seragam serta potongan tailoring yang kokoh namun tetap kasual.

Kolaborasi antara dua pasang desainer ini tidak hanya menghasilkan satu karya koleksi, tapi juga menjadi platform diplomasi budaya dan akselerasi bisnis berskala internasional, seperti terungkap dalam wawancara dengan para peserta residency. 

Wawancara djakarta.id dengan empat desainer peserta PINTU Residency 2026 dalam acara Re-See di Fashion Tent JF3, 27 Juli 2026.

Hasil akhir dari proses riset dan eksperimen sirkular dari kedua pasangan ini dipresentasikan 23 Juli 2026 di panggung runway JF3 Fashion Festival 2026, serta berkesempatan menembus pasar ritel global melalui Première Classe Paris Trade Show.

Melalui PINTU Incubator dan program residencynya, JF3 2026 membuktikan bahwa panggung mode bukan lagi sekadar parade visual semata. Program ini menyajikan ekosistem nyata yang mempertemukan material, teknik kriya, dan pertukaran pengetahuan antarbudaya demi menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Karya kolaboratif dari keempat desainer tersebut menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai pusat inovasi mode dunia yang berakar kuat pada tradisi.