
Cikang Resto Hadir Mengungkap Legenda Cita Rasa Tak Terungkap dari Ranah Minang
Sebagai salah salah satu kuliner nusantara, masakan Padang cukup populer di semua kalangan dan suku. Dari kelas warung hingga resto pun ada yang menghidangkan masakan Padang. Namun apapun kategorinya, resto Padang punya citra yang seragam, yakni resto "cepat saji" di mana kebanyakan hidangan sudah siap di atas puluhan piring dalam suasana resto yang "Sederhana". Selama ini orang datang ke resto Padang hanya untuk makan, dan tidak untuk hangout sambil ngopi. Dari pengamatan ini dan terinspirasi dari kenangan masa lalu, dr. Ivan yang selama ini lebih terkenal sebagai dokter ahli kandungan, akhirnya melahirkan "bayi" yang berbeda dengan membuka Cikang Resto. Cikang tidak hanya menyajikan masakan Padang dalam "kemasan" yang berbeda, namun masakan yang disajikan juga memiliki latar belakang sejarah. Selain masakan khas Padang yang sudah dikenal, Cikang juga menyajikan aneka masakan yang bisa digolongkan sebagai masakan Peranakan. Cikang Resto hadir membawa kekayaan dan keunikan kuliner Padang yang selama ini belum diketahui banyak orang.
Padang menyimpan sejarah panjang dalam kebudayaan dan sosial kemasyarakatan yang tercermin dalam kehidupan multi kultur berbagai etnis dan agama. Tak ketinggalan, kekayaan kebudayaan tanah Minang itu juga meliputi keragaman dan keunikan kuliner yang tak pernah luput dari bincang sejak masa kolonial. Salah satunya kawasan Pondok, sebuah tempat yang bisa disebut Chinatown-nya kota Padang, menjadi saksi sejarah kekayaan budaya serta terjaganya harmonisasi antara warga keturunan Tionghoa dan etnis lainnya.
Lebih dari setengah abad lalu, di kawasan pecinan itu terdapat sebuah sebuah kedai kopi milik seorang warga keturunan bernama Lee Chi Kwang. Di kedai itu tersaji bukan hanya kopi, tapi juga beragam menu sarapan, makan slang atau malam, hingga aneka jajanan lokal maupun oriental. Di tempat legendaries itu, sebuah keluarga asli Padang yang acap berkunjung ke sana menikmati keunikan cita rasa beragam sajian sekaligus menikmati indahnya kebersamaan keluarga yang penuh cinta. "Waktu kecil orang tua kami sering mengajak kami mengunjungi kedai kopi milik Lee Chi Kwang itu. Kami melafalkannya sebagai CIKANG. Memori minum kopi dan sarapan di kedai CIKANG begitu lekat dan meninggalkan kesan yang sangat dalam hingga sekarang." papar Dr. Ivan mengenang. Seiring perjalanan waktu dan pergantian generasi, kedai kopi itu sudah tidak ada, namun legenda rasa yang lekat di kedai CIKANG tak pernah lekang.
Beragam keunikan cerita dan menu yang jarang ditemui kini tersaji di Cikang Resto. Sebut saja menu Salad Uci (uci = nenek bhs Padang), adalah menu yang secara umum tidak ditemui di resto Padang, bahkan di resto peranakan sekalipun. Salad Uci adalah "salad" dengan citarasa campuran antara asam dan sedikit manis yang menjadi trademark hasil karya uci (nenek) di keluarga mereka. Rasa segar dari salad ini sangat cocok menjadi pembuka hidangan. Ada juga Nasi Uci & Nasi Angku (angku = kakek bhs Padang), sebuah sajian nasi campur Padang yang sebenarnya juga biasa di temui di resto-resto Padang lainnya. Yang membedakan menu ini adalah penamaannya yang sangat personal sekaligus mengekalkan kegemaran Uci dan Angku mereka yang lebih memilih ayam ketimbang daging rendang.
Selain menyajikan keunikan rasa dan cerita kuliner ranah Minang yang selama ini hampir jarang didengar, Cikang Resto yang berada di Graha Anam, Ground Floor 11, JI.Teuku Cik Ditiro Menteng ini juga menyediakan ragam menu dengan keunikan cita rasa lokal yang melegenda maupun menu oriental, seperti kwetiauw dan mie. Menu-menu lokal khas Cikang seperti Ketupek Sayur dan Soto Padang dengan cita rasa aslinya menawarkan pengalaman cita rasa kuliner tak terlupakan.
Resto Cikang hadir mewakili budaya keluarga dan sejarah kota Padang dalam wujud keunikan cita rasa yang berbeda dari rumah makan manapun. Resto Cikang pun bisa jadi tempat nyaman untuk sekedar hangout dengan menikmati secangkir Kopi Cikang sambil ikut mengenang cerita-cerita nostalgia sejarah kota Padang masa kolonial.

Posting komentar