Fashion

JF 3 Menggelar JF3 TALK 2026

Sesi diskusi santai untuk ngobrolin arah baru fashion Indonesia

Tahun ini, JF3 mengangkat tema “Recrafted: Shaping the Future”, bukan hanya soal tren, tapi bagaimana industri fashion dibentuk lewat cerita, perspektif, dan kolaborasi yang terjadi di baliknya. Topic yang dibahas kali ini adalah “Karya yang Kuat Tetap Butuh Cerita dan Komunikasi yang Tepat”. Di sesi ini, dibahas hal-hal yang dekat dengan dunia media & lifestyle yaitu bagaimana media melihat brand & desainer Indonesia saat ini, seperti apa story yang relevan dan memiliki value untuk audience, dan apa yang membuat sebuah brand mode layak untuk diangkat dan dibicarakan. Formatnya berlangsung dalam open discussion yang lebih intimate & insightful, sehingga dapat sharing dan exchange perspective secara langsung.

Tampil sebagai pembicara adalah Thresia Mareta (Advisor JF3, Co-Founder PINTU, & Founder LAKON Indonesia), Daniel Ngantung (Editor Detik Wolipop), Hilmy Faiq (Editor Harian Kompas), dengan moderator Dino Augusto.

Berikut ini catatan dari para pembicara dalam diskusi yang berlangsung Selasa 19 Mei 2026 di Summarecon Discovery, La Piazza.

OPENING TALK

Thresia Mareta

Tema Recrafted: Shaping the Future lahir dari keyakinan bahwa konsep saja tidak cukup, eksekusi nyata adalah keharusan. Lebih dari sekedar platform show, JF3 ingin menjadi ruang untuk saling berbagi ilmu dan tumbuh bersama. Koneksi antar-elemen ekosistem: media, pelaku, pasar, belum terjalin optimal, dan di tengah membludaknya media online, penting memilih media yang benar-benar kompeten agar pertumbuhan industri tidak hanya menjadi bubble internal.

"Mungkin paling pas kami persilakan kepada Ibu Thresia Mareta untuk menjelaskan program-program JF3 dan ekosistem yang sedang dibangun saat ini."

JF3 bukan hanya platform untuk tampil saja, di sini kami ingin kita benar-benar bisa saling mengisi, saling berbagi ilmu, supaya kita semua bisa tumbuh bersama. Eksekusi tidak bisa dilakukan oleh JF3 saja, tapi harus oleh semua pelaku juga.

Koneksi antar elemen ekosistem belum benar-benar terjalin dengan baik. Ada media, ada pelakunya, tapi apakah si pelaku mengerti media? Apakah medianya benar-benar mengerti si pelaku? Media sering bingung apa yang mau ditulis karena pelakunya pun belum mengerti apa yang menarik buat mata jurnalis. Media online memang banyak banget, tapi tidak semuanya kompeten, yang rame belum tentu yang pantas dibaca. 

“Ibu bilang bahwa pertumbuhannya kita melihat skala pertumbuhannya terus naik, tapi justru malah bentuk dari tantangannya berubah ya?”

  • Naik yang perlu dipertanyakan: naik beneran atau tidak? Parameter-nya apa? Situ-situ saja?
  • Pengakuan harus datang dari pihak lain, bukan dari diri sendiri. Kalau kita sendiri yang bilang kita bagus dan semakin besar, itu cuma ngaku-ngaku sendiri. 

"Berarti grow dari tahun lalu judulnya a new vision, tahun ini shaping the future, masa depannya hand in hand, dalam ekosistem industri fashion secara keseluruhan?"

  • Betul, secara keseluruhan. Kalau mau bisnis benar-benar berkembang, harus terkoneksi dengan standar internasional, baru pengakuan itu bisa didapat.
  • Kalau kita punya standar sendiri yang aneh sendiri, rasanya itu belum cukup. 

"Secara konkret, program dan sistem apa yang sedang dibangun JF3 untuk mendorong pertumbuhan brand Indonesia?"

  • Fashion Village & CODE.STRT: sebagai wadah test market langsung bagi brand untuk memahami perilaku konsumen nyata di lapangan.
  • International Collaboration: JF3 menghadirkan desainer dari Korea Selatan sebagai bagian dari kolaborasi dua arah, mereka datang ke Indonesia, dan JF3 diundang hadir di Korea.
  • Future Fashion Designer (sebelumnya Future Fashion Award): Program ini kini lebih terfokus pada eksekusi nyata, peserta ditantang untuk langsung mengeksekusi desain, pola, dan produksi, bukan sekadar konsep di atas kertas.
  • PINTU ke Paris Trade Show: Membuka peluang bagi desainer Indonesia untuk tampil dan terekspos di panggung internasional.
  • JF3 Model Search: Mendukung tidak hanya desainer, tetapi juga model. 

SESI DISKUSI TERBUKA

Moderator membuka sesi dengan mengingatkan keli pernyataan Hilmy Faiq di JF3 Talk 2025: "Barang bagus sering tidak laku karena maknanya tidak sampai ke konsumen."

“Gimana relevansinya sebenarnya antara brand, produk bagus atau tidak, kemudian makna lewat komunikasi, dan juga media?”

Hilmy Faiq

Setiap produk punya cerita, sejarah, dan nilai-nilai yang harus relate dengan calon pembeli. Isu-isu besar yang relevan saat ini, lingkungan, kemanusiaan, kesetaraan, kolonialisme, menjadi narasi yang paling banyak dicari. Produk tidak bisa dilihat hanya dari kenyamanan dan harga. Perlu diidentifikasi dulu isu mana yang relevan: apakah produk memberdayakan masyarakat, memanusiakan pekerja, mendukung lingkungan? Dari situ baru narasi dibangun. 

"Kenyamanan di hati kini lebih penting dari kenyamanan di tubuh. Pembeli ingin merasa menjadi orang yang lebih baik ketika membeli suatu produk." 

"Berarti produk yang berkualitas adalah fondasi utama, baru setelah itu added value-nya dikomunikasikan lewat narasi. Nah, tapi keduanya harus berjalan bersamaan, bagaimana menjaga keselarasannya?" 

Hilmy Faiq

  • Produk yang bagus dan narasi yang kuat harus berjalan beriringan, keduanya sama-sama menjadi "pencahayaan" bagi brand.
  • Kualitas produk saja tidak cukup jika di balik proses produksinya ada praktik negatif: merusak lingkungan, eksploitasi pekerja, tidak ada jaminan kesehatan.
  • Konsumen semakin peduli terhadap nilai dan dampak produk, brand dengan praktik tidak etis berpotensi perlahan ditinggalkan pasar. 

“Mas Daniel, dari Wolipop, POV-nya seperti apa mengenai produk, narasi, dan added value sebagai tiga komponen yang harus selaras?”

Daniel Ngantung

Senada dengan Mas Faiq, kuncinya ada di konsistensi. Narasi yang sudah dibangun tidak boleh berhenti di koleksi pertama saja, harus terus ditarik sebagai benang merah di setiap koleksi berikutnya. Kalau tidak, jadinya greenwashing: sekadar jualan, bukan benar-benar punya nilai, dan publik akan mempertanyakan otentisitasnya. Media pun bisa membedakan mana brand yang legit dan mana yang hanya pakai narasi sebagai alat promosi. 

“Berarti narasi tidak bisa cuma nempel di situ saja, tapi harus tercermin dari brand value, DNA, akhirnya terasa sendiri?” 

Thresia Mareta

Kalau cerita itu cuma sekedar cerita, itu tidak akan menjadi bagian dari identitas. Nilai yang benar-benar dipegang, akan tercermin dari setiap titik eksekusi, waktu memilih bahan, waktu memilih kain, itu semua akan kelihatan. Gak usah diceritain sampai gimana pun, produknya sendiri yang akan bercerita. Waktu orang nanya, semuanya nyambung. Beda sama brand yang cuma punya satu jawaban: ‘saya sustainable karena pakai sisa material pabrik’. Terus berhenti di situ. Itu yang dimaksud cuma sekedar cerita. Narasi memang perlu ada, tapi kalau identitasnya sudah benar-benar dipegang, ia akan terasa sendiri. 

“Tapi untuk audiens sendiri, publik, audiens ini tertarik sama produk yang bagus, desain yang bagus, atau sosok brand, atau perjalanan bisnis? Biasanya apa yang paling banyak dibaca?”

Daniel Ngantung

  • Konten yang paling banyak dibaca adalah yang viral dan berkaitan dengan figur publik, gaya berpakaian mereka, brand yang mereka pakai.
  • Audiensi masih sangat tertarik pada celebrity dan influencer lifestyle, tren ini belum banyak berubah.
  • Momen seperti pejabat publik memakai brand lokal bisa jadi pintu masuk eksposur gratis yang besar bagi sebuah brand.
  • Media tidak berhenti di berita viral saja, momen itu dijadikan jembatan untuk menggali lebih dalam cerita dan narasi brand yang bersangkutan.
  • Untuk brand yang sudah punya nama, orang lebih tertarik pada produknya. Tapi untuk brand baru, sosok di baliknya justru yang lebih menarik, terutama narasi from zero to hero: perjuangan dan perjalanan membangun brand dari awal. 

“Berkaitan dengan konsistensi value, menurut Mas Faiq: Apakah audiens pertama kali tertarik karena tampilannya, atau karena value yang dibawa brand dan figur yang memakainya?”

Hilmy Faiq

  • Ada dua lapis kesadaran konsumen: pertama kesadaran visual, apakah tampilannya menarik? Kedua kesadaran value, apakah nilai yang dibawa figur / brand ambassador tersebut selaras dengan brand?
  • Konsumen tidak hanya melihat siapa yang memakai produk, tapi juga mengecek apakah value figur itu sinkron dengan brand.
  • Memilih brand ambassador atau figur publik yang problematik bisa jadi bumerang, daya tarik visual sifatnya sementara, tapi asosiasi negatif bisa bertahan lama.
  • Konsumen bisa menghindari produk semata-mata karena tidak ingin diidentikkan dengan figur yang bermasalah: "saya gak mau dicap pakai baju yang sama sama dia."