Saya Tidak Suka yang SimpelKALAU ditanyakan pada mereka yang tinggal atau sering ke Bali, pasti akan mengatakan suasana sekarang Bali jauh beda. Pastinya lebih macet dengan area yang turis yang lebih tersebar. Yang tadinya hanya berkisar area Kuta-Legian, kini sudah tersebar ke banyak penjuru, dari Canggu hingga Uluwatu.
Pada awalnya pusat wisata memang ada di area Kuta Legian, dan satu jalan utama yang jadi penghubung antara Kuta dan Seminyak adalah Jalan Legian Raya yang terbentang dari area Kuta, dengan titik awal yang dulu dikenal dengan Bemo Corner, kemudian berlanjut sebagian bernama Jalan Raya Seminyak, dan sebagian lagi bernama Jalan Basangkasa hingga hampir ke ujung Jalan Kayu Aya, yang awalnya dikenal dengan Jalan Oberoi, simply karena jalan itu menuju Hotel Oberoi.
Karena sangat panjang, jalan ini pun dipenuhi dengan berbagai usaha, mulai suvenir, resto hingga tatoo. Suasana jalan yang cukup rindang memungkinkan para turis bisa santai jalan -jalan berkilometer sambil melihat-lihat toko yang meramaikannnya. Di sinilah juga satu usaha bernama ET Club membuka tokonya lebih dari 20 tahun yang lalu. Bali! berkesempatan bertemu dengan Dewi Eka Salim, atau cukup akrab dipanggil mba Dewi saja, sebagai owner dan berbincang lebih lanjut mengenai ET Club.
ET itu Club apa?
Jangan salah kaprah hanya karena ada kata Club-nya, kita bukan lounge, bar atau sejenisnya, tapi inilah jenama yang saya berikan untuk lini produksi saya. Saya pertama buka toko di sini pada tahun 1999. Saat kerusuhan 1998 saya pergi ke Bali, dan saat itu memutuskan untuk pindah dari Jakarta dan tetap tinggal di Bali.
ET artinya apa?
Ini memang sedikit terinspirasi mahluk luar angkasa dari Film dengan nama yang sama. Saat hamil saya tidak bisa makan, sehingga kurus sekali, hanya perutnya yang buncit, hingga adik memanggil saya dengan nama ET. Selanjutnya saya pikir kenapa tidak pakai nama ET saja yang kemudian saya tambahkan kata Club biar jumlahnya menjadi 6 huruf, yang dalam budaya Tionghoa bermakna enam atau lancar. Ya, pastinya biar lancar bisnisnya.
Produk apa saja yang dibuat oleh ET Club?
Produk utama adalah Sandal, Tas dan beberapa aksesoris khususnya untuk Wanita. Yang membuat unik dari produk ini adalah design yang rumit, banyak pernak perniknya, semua dibuat dengan tangan, dan menggunakan kulit asli.
Bagaimana awal ET ini berdiri?
Pertama datang ke Bali di tahun 90an melihat sandal di Bali lucu-lucu, tapi kesannya terlalu tradisional. Ada keinginan untuk dibuat lebih modern atau lebih menarik. Pertama kali coba design sendiri dan dibuat pengrajin di Bali. Pertama kali saya bawa 9 pasang sandal ke Jakarta. Sampai Jakarta teman-teman saya suka, terus ada teman yang menawarkan untuk dijual di butiknya. Waktu itu butiknya masih di ITC Mangga Dua. Saat itu belum ada labelnya. Ternyata di tempat teman, sandal saya laku. Butik-butik lain malah juga nyari sama saya. Pertama kali saya buka toko di kawasan Basangkasa tahun 1999.
Apa yang membuat orang tertarik pada produk ET ini ?
Awal laku justru karena krisis moneter yang mengakibatkan barang impor mahal. Sandal saya laku karena looknya seperti produk luar. Waktu itu meledak karena saya buat sesuatu yang tradisional dibikin modern. Sejak itu produk saya sudah pakai nama ET dan bahkan mulai dicopy orang. Saya banyak dapat tamu luar seperti dari Spanyol, dan pernah produksi sampai Surabaya dan Manado. Dan waktu itu sudah mutuskan stay di Bali saja dan ekspor barangnya. Produk utamanya sandal dan tas, ada juga aksesoris, tergantung pesanan aja.
Produk ET hanya untuk wanita?
Semua produk ET untuk wanita dan dibuat dengan tangan atau handmade. Kalau sandal lebih cocok untuk suasana summer. Saya tidak menganggap bahwa produk saya merepresentasikan Bali, tapi lebih tepat mendunia. Bisa dipakai ke mana aja, bahkan kuat dipakai ke pantai, walaupun designnya rumit. Kami juga sediakan jasa perbaikan untuk produknya. Paling banyak yang memang minta diperbaiki adalah dari luar, sementara lokal biasanya kalau rusak, dibuang dan beli lagi.
Siapa yang design produk ET?
Kalau yang dipajang di toko semuanya adalah design sendiri, sementara yang special order tidak pernah saya pajang. Bukannya belum pernah buat sandal untuk pria, tapi ternyata tidak laku. Untuk tas yang selalu diperhatikan adalah kenyamanan dan ukuran, dan saat ini favoritnya yang ukurannya sedang. Ada model yang memang dari awal sampai sekarang tidak berubah karena tetap digemari. Saya bangga banyak pembeli mengatakan bahwa memakai sandal saya lebih nyaman dibanding yang branded sekalipun. Tidak sakit. Semua design sendal memang saya coba sendiri dulu, itulah quality control saya. Enak baru masuk proses produksi.
Siapa pasar produk ET saat ini?
Pembelinya sekarang banyak dari lokal, ada Eropa produk yang kmai jual dengan kisaran harga 400ribu - 3 juta untuk tas dan 600ribu -1 juta untuk sendal. Ekspor saat ini paling banyak sekarang ke Eropa utamanya Italia, sebelumnya dari Ibiza Spanyol. Biasanya buyernya datang langsung, tapi sebelumnya memang sudah menyampaikan ide-ide untuk designnya yang kami buat samplenya dulu kemudian kami buatkan per warna satu seri. Di negaranya diikutkan dalam ajang seperti fashion dulu. Begitu ada ordernya langsung diteruskan ke kita, jadi apa yang mereka pesan itu memang sudah laku. Minimal order biasanya ada di 30 pasang, tapi untuk maksimal saya berani berapa saja, tinggal tambah tukang saja, hanya memang biasanya terbentur waktunya. Kalau untuk sandal tukangnya berasal dari Bandung atau Malang, sementara untuk pernak-pernik dan lukisanya tukang asal Bali.
Apa tantangan terbesar saat ini?
Tantangannya adalah penjualan jaman sekarang, yang harusnya sudah mengandakan penjualan online. Saya terus terang tidak faham cara penjualan online karena ya gaptek. Sudah saatnya memang ada regenerasi, dan saya sudah menyiapkan menantu saya, Liis, untuk mulai mengambil alih usaha ini. Tantangan lain adalah persaingan dari produk luar, utamanya dari China yang hampir sama produknya. Mereka memang bisa copy apa pun. Bawa saja satu sandal kita ke mereka, dan mereka akan buatkan dengan harga lebih murah. Dan karena mereka menggunakan mesin, sehari bisa produksi banyak. Kalau kita kan kerjakan dengan tangan sendiri. Seandainya di China dikerjakan dengan tangan, jatuhnya juga mahal. Keunggulannya, ya mereka punya mesin untuk mengerjakannya. Namun begitu, pembeli dari luar lebih senang kalau tahu bahwa produk kita di kerjakan dengan tangan. Kalau dikerjakan dengan tangan memang tidak bisa rapi, kalau dengan mesin itu terlalu perfect terlihat sekali.
Dewi bersama menantu Liis, sebagai generasi penerus dari ET Club
Apa yang diharapkan untuk masa depan?
Terus terang ada satu sifat saya yang kurang bagus adalah, kalau saya tidak suka designnya, saya ngak bikinin. Oleh karena itu harapan saya buat Liis sebagai generasi penerus usaha ini, akan meneruskan ET Club seperti sekarang. Saya tidak suka produk yang terlalu simpel atau plain tanpa apa-apa. Yang simpel itu bukan saya.
ET Club @etclubofficial
Jl. Raya Basangkasa No. 34
Seminyak - Kuta
Bali