Nightlife/Party

Far East Speakeasy Bar

De Tiger, Bar Warisan Kolonial Tersembunyi di House of Tugu Old Town Jakarta

DJAKARTA.IDMenjadi salah satu hotel butik mewah bintang 5 di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, House of Tugu, Old Town Jakarta baru saja meresmikan pembukaan De Tiger. Sebuah speakeasy bar yang populer di Amerika Serikat circa 1920-an, di mana pengunjung harus berbicara dengan pelan (speakeasy) untuk memesan minuman. Konsep ini dimakani De Tiger yang lokasinya “tersembunyi” di balik dinding warisan kolonial hotel, berdiri di atas tanah berumur lebih dari seabad.

De Tiger menghidupkan kembali esensi sejati dari tradisi speakeasy bar, sebuah ruang rahasia tempat percakapan intim, diplomasi, dan ketenangan. Sekaligus menjadi saksi bisu kisah seekor harimau Jawa bermata satu bernama Merem yang dibebaskan, disembuhkan, dan tak pernah dilupakan oleh keluarga pendiri hotel tersebut.

“De Tiger adalah penghormatan kami terhadap dunia yang terlupakan itu. Setiap koktail, barang antik, karya seni, dan setiap sudut di ruangan ini menceritakan kisah yang terinspirasi oleh pertemuan-pertemuan luar biasa tersebut. Lebih dari sekadar speakeasy, kami ingin menangkap romantisme, misteri, dan semangat petualangan yang dulu,” jelas Lucienne Anhar, Co-Owner of Tugu Hotels and Restaurants.

Nama De Tiger sendiri diambil dari kisah nyata Merem, seekor harimau Jawa bermata satu yang ditangkap di dekat perkebunan kopi Kawisari, Blitar untuk jadi tontonan publik pada awal abad 20. Kabar ini terdengar hingga ke telinga Raden Adjeng (RA) Kasinem, istri pertama Oei Tiong Ham yang merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia Tenggara saat itu. RA Kasinem pun mengutus asisten kepercayaannya, Parmun untuk membeli kebebasan Merem dengan harga seratus karung besar biji kopi.

Akhirnya Merem dibawa ke Batavia untuk menerima perawatan dari dokter hewan terbaik di Hindia Belanda. Sang harimau ditempatkan di sebuah gudang besar di sepanjang Kali Besar Barat, gedung yang kini bertransformasi menjadi House of Tugu Old Town Jakarta. Setelah pulih, Merem dibawa kembali dan menghabiskan sisa hidupnya di Semarang, kediaman Oei Tiong Ham.

“Selama turun-temurun, kisah luar biasa tentang buyut perempuan saya dan ikatan istimewanya dengan seekor harimau, selalu membuat saya terpesona. Merem hidup lebih dari seabad lalu dan sempat tinggal di gedung De Tiger berdiri saat ini. Ini merupakan sebuah penghormatan terhadap era yang telah lama hilang,” ujar Lucienne menambahkan.

Kehadiran De Tiger seolah memberi nyawa kembali kepada kehidupan malam Jakarta di area pelabuhan kuno dengan atmosfer lebih intim di bawah lampu-lampu sekitar Kali Besar, Kota Tua Jakarta. Permainan musik yang dikurasi dengan cermat, De Tiger berhasil memadukan Organic House, Afro House, Dark Disco, dan Cinematic Electronic. Tak lupa juga menyisipkan tekstur tradisional Indonesia, seperti petikan gitar keroncong hingga vocal ke dalam aransemen elektronik modern.

Pada hari Selasa – Kamis serta Minggu, De Tiger menyajikan suasana Colonial Garden, perpaduan jazz dan downtempo yang lebih tenang. Kemudian hari Jumat akan dibuka dengan Tiger After Dark, menampilkan ritme Afro House bertenaga untuk merefleksikan perayaan para saudagar Batavia setelah hari perdagangan yang panjang. Sementara hari Sabtu akan bertransformasi menjadi Smugglers' Night, malam penuh misteri yang digerakkan oleh alunan Tribal House dan Melodic House lebih gelap, sensual, dan sinematik.

Pengunjung De Tiger bisa mencoba tiga jenis koktail yang dinarasakian sebagai The Journey of Merem, The Trader's Table, dan The Spice Market. Racikan minuman ikonis, seperti “100 Karung Kopi" dan "Taman Merem” menjadi penghormatan langsung pada aksi penyelamatan dramatis sang harimau Jawa. Ada juga racikan eksotis seperti “Siam” yang menangkap esensi perjalanan melampaui kepulauan Nusantara.

De Tiger juga membawa rempah global sebagai eliksir konseptual seperti Gujarat, Hadrami, dan Nagasaki. Hal ini merupakan penghormatan kepada para saudagar lintas bangsa di Sunda Kelapa. Di sisi kuliner, De Tiger menyajikan hidangan kontemporer dan elegan yang merepresentasikan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai titik temu rasa dunia. Misalnya hidangan “Saudagar’s Platter” yang berisi kroket kepiting, bakwan jagung manis, dan sate lilit kakap mini.

Ke depannya, De Tiger akan terus menghadirkan deretan penampilan dari musisi dan DJ tamu spesial yang mengajak pengunjung menjelajahi kekayaan tradisi musik dunia, mulai dari Batavia Lama, Shanghai Lama, India, Timur Tengah, Nusantara, hingga Jepang. Info reservasi bisa menghubungi WhatsApp ini. (aul)